Minggu, 22 April 2012

bahaya obat tanpa resep bagi anak-anak




Kasus kematian bocah berumur 5 tahun Kimber Michelle Brown pada bulan Februari 2012 menegaskan kembali bahaya obat tanpa resep (over-the-counter drugs, OTC) bagi anak-anak. Hasil otopsi yang dirilis 15 April menyebutkan, Kimber meninggal akibat overdosis obat flu.

Dia mengonsumsi dextromethorphan, yang terkandung dalam obat batuk sirup, dua kali lipat dosis seharusnya. Juga terdapat obat lain Cetirizine dalam sistem pencernaannya dalam dosis berlebihan.

Obat-obatan itu diberikan oleh nenek Kimber.

Kelebihan dosis obat batuk sirup dapat terjadi karena kekeliruan sederhana. Yang harusnya dosis satu sendok teh, malah sendok makan. Diperkirakan, 70 ribu anak-anak dilarikan ke rumah sakit setiap tahun karena keracunan obat tanpa resep.

Diane Murphy, M.D., direktur badan pengawasan obat untuk anak-anak memberi beberapa petunjuk pemberian obat bagi anak-anak:

1. Obat yang diberi label “anak-anak” tidak berarti bisa diberikan bagi pasien semua usia. Bacalah petunjuk pemakaian dengan teliti.

2. Beberapa obat seperti aspirin dapat berakibat fatal bagi anak-anak dengan gejala penyakit campak atau flu. Berkonsultasilah dengan dokter anak sebelum memberi obat.

3. Gunakan obat sesuai petunjuk. Jangan memberi obat-obatan pada anak melebihi kadar yang dianjurkan untuk ukuran usia dan berat badannya.

4. Gunakan alat pengukur yang disertakan pada obat tertentu. Jangan gunakan sendok atau alat yang diberikan pada obat lain.

5. Jangan berikan obat tanpa resep atau obat flu kepada anak di bawah dua tahun kecuali disarankan oleh dokter.

6. Jika ragu-ragu, jangan berikan obat untuk anak Anda dan hubungi dokter. Obat tanpa resep hanya bisa mengatasi gejala, bukan penyebab penyakit, sehingga risiko dapat lebih besar.

0 komentar:

Poskan Komentar